Jumat, 12 Februari 2010

Untitled (How Could This Happen to Me)

Kulitnya hitam legam karena selalu bermandikan panas yang menyengat. Wajah dekil, dihiasi ingus yang meleleh dari hidungnya. Terkadang disekanya ingus itu dengan tangan, lalu digosokkan di celana pendek bulukan yang membungkus pahanya. Sesekali kaki telanjangnya menendang kerikil kecil. Dikucek-kucek matanya yang masih ada belekan, tak percaya dengan apa yang terpampang di jalan hidupnya. Dia tak pernah merasakan apa yang dirasakan teman2nya, kasih sayang dari kedua orang tua mereka yg masih lengkap. Sunyi sepi menghiasi siang dan malam. Itulah jalan yang telah digariskan oleh-Nya. Ooohhhh.... sungguh malang nasibnya
Sungguh...... dalam usia anak-anak telah menjadikan dirinya sebagai ladang amal dan teladan kepada yang mengenal mereka. Jiwanya serasa dihempaskan ke dasar jurang oleh sebuah kenyataan.

Ibunda tercinta selalu membuatnya tegar berdiri, tapi apa daya.... semua terasa kurang adil baginya dan bertanya-tanya dalam hati kecil “Tuhan.... mengapa ini terjadi pada diriku”. Tubuh mungil itu didekap Ibunda-nya, seraya membelai lembut buah hati tercinta. Namun anak laki-laki itu masih mencoba meronta, bahkan dicengkramnya tangan ibunda dengan kuat.
Anak itu duduk terhenyak. Matanya sejenak menatap binar cinta dari ibunda. Namun tak lama, bola mata itu pun berpindah ke sudut mata, dan menatap pojok ruangan dengan pandangan hampa. Terdengar ia bergumam tak jelas, dan digoyangkan tubuhnya ke depan serta ke belakang berulang-ulang. Tak urung tetesan bening jatuh dari telaga mata wanita yang berwajah teduh tersebut. Ajaib, bola mata anak lelaki itu tiba-tiba beralih menatap wajah ibundanya kembali. Lalu dengan susah payah tangannya menyentuh, dan jari telunjuk menyeka air mata yang membasahi pipi.
Dengan dorongan dan semangat Ibundanya, kaki kecil itu bisa melangkah dengan gembira.

Kini.... Anak itu beranjak Dewasa.
Mata tajam itu masih kelihatan meronta. “Tuhan.... tunjukkan jalan-Mu” berbisik dalam hati kecilnya. Kini, Ibunda tercinta masih setia menjaganya. Ringkih dan renta karena ditelan usia, namun tampak tegar dan bahagia. Ikhlas, memancarkan selaksa cinta penuh makna yang membias dari guratan keriput di wajah. Tiada yang berubah sejak saat dalam buaian, hingga sekarang mahkota putih tampak anggun menghiasinya. Dekapannya pun tak berubah, luruh memberikan kenyamanan dan kehangatan.

Dalam hening malam laki-laki itu berucap:


Duhai ibunda...
Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang, dan lidah yang pernah terucap kata makian hingga membuat luka hatimu. Maafkanlah pula kalau kesibukan menghalangi untaian do'a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu. Ma’af...!!!

Duhai ibunda...
Bukakanlah pintu ridhomu, hingga Allah pun meridhoiku.
Hidup emang kadang tak seindah puisi, ataupun syair romantis dalam lagu-lagu cinta. Kesedihan, kegundahan serta isak tangis juga salah satu mata rantai kehidupan yang mungkin saja terjadi.

Duhai ibunda...
Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu. Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku. Indah... semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.

Allahumma inni as aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal 'amala aladzi yubalighuni ilaa hubbika. Allahummaj'al habbaka ahabbu ilayya min nafsii wa ahlii waminal maailbaarid.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kecintaan-Mu, kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu dan amal yang menyampaikanku pada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku dan air yang sejuk/dingin (harta).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar